TANGERANG SELATAN, deliksatu.com — Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Lubenah Amir, mengajak para orang tua menjadi teladan bagi anak dalam membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an dan menjaga hafalan yang telah dimiliki.
Menurut Lubenah, orang tua tidak cukup hanya meminta anak membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Kebiasaan tersebut perlu dimulai dari keteladanan orang tua di lingkungan keluarga, karena anak akan belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
“Orang tua harus menjadi teladan, harus menjadi role model. Kalau orang tua saja banyak memegang handphone, bagaimana anak mau meniru dan terbiasa memegang Al-Qur’an?” ujar Lubenah dalam Talk Show Orang Tua Hafidz Qur’an di Masjid Al Muhajirin, Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Minggu (6/9/2026).
Lubenah menilai kecintaan terhadap Al-Qur’an perlu dijaga secara terus-menerus, terutama pada anak yang telah memiliki hafalan. Menurutnya, murojaah dan kebiasaan mendengarkan Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari rutinitas keluarga untuk mempertahankan hafalan sekaligus menumbuhkan kedekatan anak dengan Al-Qur’an.
“Kecintaan kita kepada Al-Qur’an harus kita jaga, begitu juga kecintaan putra-putri kita terhadap Al-Qur’an. Murojaah setiap hari dan mendengarkan Al-Qur’an harus terus dijaga. Itu menjadi kebanggaan bagi kita sebagai orang tua,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Karena itu, pembentukan kebiasaan keagamaan tidak hanya berlangsung melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui apa yang dilakukan orang tua di rumah.
Lubenah mengutip ungkapan “Al-ummu madrasatul ula”, yang bermakna bahwa ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Menurutnya, peran tersebut menunjukkan besarnya pengaruh orang tua dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak sejak dini, termasuk dalam membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an.
“Orang tua harus menjadi teladan. Anak-anak akan melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Kalau orang tua ingin anaknya mencintai Al-Qur’an, maka orang tua juga harus menunjukkan kecintaan itu dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Di tengah perkembangan teknologi, Lubenah mengingatkan orang tua agar penggunaan telepon seluler tidak membuat anak semakin jauh dari Al-Qur’an. Ia justru mendorong teknologi dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendukung interaksi anak dengan Al-Qur’an.
“Sekarang zaman berkembang begitu pesat dan teknologi semakin maju. Kita terkadang lupa mengingatkan putra-putri kita untuk memegang Al-Qur’an karena setiap hari mereka memegang handphone. Tetapi jangan sampai kalah, karena di handphone juga sudah tersedia aplikasi mushaf Al-Qur’an yang dapat digunakan untuk membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an,” jelasnya.
Lubenah menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Talk Show Orang Tua Hafidz Qur’an yang digelar Indonesia Murojaah dengan dukungan DKM Masjid Al Muhajirin. Kegiatan bertajuk “Aku Tidak Mau Kehilangan Mahkota Surgaku: Menjaga Hafalan Anak, Menjaga Amanah Al-Qur’an” tersebut menghadirkan sejumlah tokoh di bidang tahfizh dan pembinaan keluarga.
Ia mengapresiasi inisiatif Founder Indonesia Murojaah, Deden Muhammad Makhyaruddin, yang turut mendorong masyarakat untuk menjaga hafalan Al-Qur’an.
“Terima kasih, Ustaz Deden, sudah menginisiasi kegiatan hari ini. Murojaah Indonesia yang sudah tidak diragukan lagi pengelola, anggota, dan aktivitasnya menjadi kebanggaan kita. Yang harus kita lakukan adalah menjaga hafalan anak-anak kita,” ujar Lubenah.
Lubenah menegaskan, mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan orang tua dan berbagai elemen masyarakat.
“Amanah Menteri Agama, kita semua harus mendekatkan diri kepada petunjuk hidup kita, yaitu kitab suci kita. Kementerian Agama tidak mungkin berjalan sendiri. Kami semua dibantu oleh bapak dan ibu untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik,” pungkasnya.
Editor : Glend

