BANDUNG, deliksatu.com – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir menilai perkembangan teknologi digital menjadi tantangan baru bagi industri pers. Algoritma platform kini turut menentukan informasi yang diterima masyarakat.
Hal itu disampaikan Munir dalam dialog KIBAR yang disiarkan TVRI Bandung, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, media harus mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa mengorbankan kualitas jurnalistik.
“Media harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Tetapi adaptasi itu tidak boleh mengorbankan kualitas jurnalistik,” ujar Munir.
Menurut Munir, berita berkualitas belum tentu mendapatkan jangkauan luas karena distribusinya dipengaruhi algoritma. Kondisi ini berpotensi membuat media lebih mengejar perhatian publik dibandingkan kualitas informasi.
Ia juga menilai negara perlu hadir melalui kebijakan yang mendukung keberlangsungan industri pers, namun tetap menjaga independensi media.
“Dua-duanya harus berjalan. Ada kehadiran negara untuk melindungi, sementara pers sendiri harus melakukan penataan kelola yang lebih baik, meningkatkan kompetensi dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi,” katanya.
Sementara itu, Ketua KPID Jawa Barat Adiyana Slamat menyebut media penyiaran masih memiliki basis audiens. Konsumsi televisi disebut sekitar 87 persen dan radio 50 persen.
Pengamat pers Eduard Depari menambahkan, masyarakat kini cenderung memilih informasi yang sesuai dengan minatnya. Karena itu, literasi media dan kemampuan memeriksa kebenaran informasi menjadi semakin penting.
Transformasi digital, menurut para narasumber, menuntut pers tetap beradaptasi sekaligus mempertahankan prinsip verifikasi, keberimbangan, dan kepentingan publik.
Editor : Glend

