Pengurukan SMKN 53 Jakarta Diprotes Warga, Lumpur dan Bau Diduga Cemari Lingkungan

JAKARTA, deliksatu.comKegiatan pengurukan lahan di lingkungan SMKN 53 Jakarta yang berlokasi di Jalan Rusun Flamboyan RT 01 RW 10, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, menuai protes dari warga sekitar.

Warga mempersoalkan material tanah urugan yang dinilai menimbulkan dampak lingkungan. Saat hujan turun, tanah urugan berubah menjadi lumpur dan mengalir ke halaman rumah warga yang berada di Jalan Kenangan I RT 01 RW 10, akibat tembok pembatas sekolah yang berlubang.

Salah satu warga terdampak, Yitno atau akrab disapa Pakde Yitno, mengaku terganggu dengan kondisi tersebut. Ia bersama beberapa warga mendatangi pihak sekolah untuk meminta agar kegiatan pengurukan dihentikan sementara.

Baca Juga  PAUD- IT Ihya Assunah Gelar Acara Haflah Akhirussanah Tahun Pelajaran 2022-2023

“Saya protes agar pengurukan dihentikan, apalagi sekarang musim hujan. Urugannya mencair jadi lumpur dan mengalir ke halaman rumah warga,” ujar Pakde Yitno, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, lumpur yang mengalir bukan hanya mengotori lingkungan, tetapi juga mengeluarkan bau tak sedap. Ia khawatir kondisi tersebut dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi anak-anak.

“Airnya seperti air comberan, bau sekali. Anak-anak sering bermain di sekitar situ, ini sangat berpotensi menimbulkan penyakit,” tambahnya.

Sementara itu, Abrur, petugas PJLP dari Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat yang bertugas di lokasi, menjelaskan bahwa tanah urugan tersebut berasal dari Kali Cengkareng, Jalan Daan Mogot.

Baca Juga  JOB FAIR 2024 SMKN 7 Tangsel, Berhasil Menyerap Perhatian Minat Masyarakat Luar dan Sekitarnya Dalam Mencari Lapangan Pekerjaan

“Tanah ini diangkut dari Kali Cengkareng dengan jarak sekitar 1,8 kilometer,” jelas Abrur di lokasi.

Kepala SMKN 53 Jakarta, Pudji Sumaryanto, membenarkan adanya protes dari warga. Ia mengatakan pihak sekolah telah menghentikan sementara kegiatan pengurukan karena mempertimbangkan kondisi cuaca.

“Benar, ada warga yang datang meminta pengurukan dihentikan. Karena saat ini musim hujan, kegiatan pengurukan kami hentikan sementara,” ujar Pudji.

Pudji menambahkan, pengurukan dilakukan atas permohonan pihak sekolah kepada Suku Dinas SDA Jakarta Barat. Hal itu dilakukan untuk mencegah lahan menjadi semak belukar dan berpotensi menjadi sarang binatang berbahaya.

Baca Juga  Reyhans Clementrich Houston: Atlet dan Model Muda Usia 8 Tahun yang Berbakat

“Kalau tidak diurug, lahan itu ditumbuhi rumput dan pepohonan liar. Kami khawatir bisa menjadi sarang ular yang tentu membahayakan siswa,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat, Purwati, hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan resmi terkait protes warga, meski telah dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Reporter : Asia

Editor : Red