Breaking News

Korban Kapal Arupadhatu 1 Teridentifikasi, ABK Ditemukan di Bengkulu

SERANG, deliksatu.comSatu korban kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak saat membawa jurnalis meliput erupsi Gunung Anak Krakatau akhirnya teridentifikasi. Korban diketahui berinisial SU, salah satu anak buah kapal (ABK).

Jenazah SU sebelumnya ditemukan tanpa identitas di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan identifikasi dilakukan melalui koordinasi Biddokkes Polda Banten dan Biddokkes Polda Bengkulu, kemudian dilanjutkan tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri.

“Setelah menerima informasi adanya penemuan jenazah di wilayah Pulau Enggano, kami berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk dilakukan proses identifikasi dan pencocokan dengan data antemortem dari keluarga korban kapal Arupadhatu 1,” kata Hengki saat konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga  Serah Terima Jabatan, Harison Mocodompis Siap Pertahankan Citra Positif Kementerian ATR/BPN Melalui Biro Humas

Proses identifikasi dilakukan menggunakan sejumlah data primer, mulai dari sidik jari, data gigi, hingga pemeriksaan DNA keluarga korban.
Hasil pemeriksaan DNA memastikan jenazah Mr X yang ditemukan di Pulau Enggano merupakan SU, ABK kapal Arupadhatu 1.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1,” jelasnya.

Kapal Arupadhatu 1 sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal membawa lima jurnalis dan tiga kru menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi.

Kontak dengan kapal tersebut kemudian hilang. Laporan diterima Kapolsek Carita Iptu Supandi pada Selasa (8/9) pukul 13.55 WIB dari seorang jurnalis Antara Banten.

Baca Juga  KUHP Nasional Akan Merubah Paradigma Hukum Pidana

Pencarian dilakukan secara gabungan dengan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah sektor. Hingga hari ke-10, sebanyak 24 kapal dikerahkan di 11 sektor pencarian.

Sejumlah benda ditemukan selama pencarian, di antaranya life jacket, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal dan galon air.

Kabasarnas Banten Al Amrad mengatakan operasi pencarian awal dilakukan selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang tiga hari berdasarkan evaluasi di lapangan.

“Pada pelaksanaan tujuh hari tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” kata Al Amrad.

Baca Juga  FWJ Indonesia Jakbar Sambangi Kantor FPRN DKI Jakarta dan Kantor Hukum Puguh Kribo

Namun, selama masa perpanjangan tersebut, tim SAR tidak menemukan tanda-tanda korban lainnya.

“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan,” ujarnya.

Meski operasi pencarian resmi dihentikan, Basarnas masih melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung serta masyarakat pesisir, termasuk para nelayan.

Pemantauan juga dilakukan di sekitar Pulau Enggano untuk menindaklanjuti setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan korban maupun benda dari kapal Arupadhatu 1.

Operasi pencarian sebelumnya melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dengan wilayah pencarian membentang dari perairan Banten, Lampung hingga Bengkulu.

Editor : Glend

Mengungkap Fakta
X
×
Deliksatu