JAKARTA, deliksatu.com – Mendapat dukungan penuh dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) dan Budi Luhur University (BLU), Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) melaksanakan dialog lintas agama bertajuk INTERUNITY: Different Faiths. One Conversation dengan tema Uniting for Equity: Uncovering Gender Justice in Religious Teachings.
Acara tersebut berlangsung di Auditorium Grha Mahardhika Bujana, Budi Luhur University, Jakarta Selatan Rabu (28/10/2026).
Acara ini mempertemukan tokoh dari enam agama untuk membahas kesetaraan dan keadilan gender dalam perspektif ajaran agama masing-masing.
Enam narasumber yang hadir yakni Ustadz Jojo Ali Yusuf dari Islam, Pdt. Steve Marcel Saerang S.E., M.Th. dari Protestan, Romo Dr. H.C. Drs. Handaka, Apt. dari Buddha, Romo Antonius Suhardi Antara, Pr. dari Katolik, Prof. Dr. Yan Mitha Djaksana S.Kom., M.Kom. dari Hindu, serta Js. Kristan, SE, M.Ag. dari Konghucu.
Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC), Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc., turut menyatakan apresiasinya terhadap acara ini. “YPBLC selalu mendukung penuh inisiatif HIMAHI dalam membuka ruang dialog edukatif. Ini wujud nyata dari upaya kampus merangkul keberagaman dan membahas isu kesetaraan gender dengan semangat toleransi,” tegas Julian.

Dalam pemaparannya, Pdt. Steve Marcel Saerang S.E., M.Th. menekankan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara sebagai ciptaan Tuhan. Melalui konsep Imago Dei, ia menjelaskan bahwa keduanya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Kesetaraan tidak berarti menghilangkan perbedaan peran dalam keluarga. Suami dan istri memiliki tanggung jawab masing-masing yang seharusnya dijalankan tanpa merendahkan satu sama lain.
Kemudian, Romo Antonius Suhardi Antara, Pr. menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan tidak seharusnya saling menguasai, melainkan saling menghargai dan menyempurnakan.
Ia juga menyoroti perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan serta pentingnya keterlibatan perempuan dalam kehidupan sosial dan pelayanan gereja.
Dari perspektif Islam, Ustadz Jojo Ali Yusuf menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terhadap hak dan kewajiban laki-laki maupun perempuan. Ia juga menekankan peran pemuka agama dalam memberikan edukasi untuk menjawab berbagai persoalan sosial di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, HIMAHI Budi Luhur University berupaya menghadirkan ruang percakapan yang terbuka, setara, dan saling menghormati.
Dialog tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman peserta terhadap keberagaman pandangan keagamaan, memperkuat toleransi, serta meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya keadilan dan kesetaraan gender.
Diskusi lintas agama ini juga menjadi ruang untuk mendorong penerapan nilai-nilai penghormatan terhadap martabat manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat luas.
Dikesempatan itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global (FISSIG) Universitas Budi Luhur (UBL), Dr. Lucky Nurhadiyanto, S.Sos, M.Si menyampaikan kegiatan tersebut, mahasiswa dan peserta diajak memahami keberagaman pandangan keagamaan mengenai keadilan gender sekaligus membangun ruang percakapan yang terbuka, setara, dan saling menghormati.
“Dialog lintas agama ini juga diharapkan dapat memperluas wawasan peserta mengenai nilai-nilai keadilan dalam ajaran agama, mendorong sikap toleransi, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Dr Lucky juga menjelaskan terkait pembahasan keadilan gender dalam perspektif keagamaan menjadi bagian penting dari upaya membangun pemahaman yang inklusif di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan dan pandangan berbeda.
“Melalui pertukaran gagasan dan perspektif, peserta diharapkan dapat melihat bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang untuk berdialog dan membangun komitmen bersama terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan INTERUNITY mengangkat pesan bahwa dialog yang dilandasi rasa saling menghormati dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat toleransi dan mendorong pemahaman yang lebih baik terhadap isu keadilan gender.
“Dengan mengusung semangat “Different Faiths. One Conversation”, kegiatan ini menekankan pentingnya membuka ruang komunikasi antarpemeluk agama agar perbedaan dapat dibahas secara konstruktif, tanpa mengesampingkan prinsip saling menghargai,” ujarnya.
Ia berharap, melalui forum tersebut, HIMAHI Budi Luhur University diharapkan dapat berkontribusi dalam menumbuhkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya dialog lintas agama tersebut.
“Kami berharap para mahasiswa dapat menghormati terhadap keberagaman, serta penerapan nilai keadilan dan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Editor : Glend

