Breaking News

Cisadane Terancam Pencemaran, Penggiat Lingkungan Desak Audit Tata Ruang

TANGERANG SELATAN, deliksatu.com – Sungai Cisadane menghadapi ancaman pencemaran seiring pesatnya pembangunan kawasan perkotaan dan industri di wilayah Tangerang Raya. Pemerintah daerah didesak memperketat pengawasan lingkungan, menindak dugaan pelanggaran, serta mengevaluasi kebijakan tata ruang.

Desakan tersebut mengemuka dalam Diskusi Terbuka bertema ‘Sungai Cisadane: Antara Urat Nadi Kehidupan dan Saluran Buang Perkotaan’ di Rumah Makan Lembah Mas Jaya, Tangerang Selatan, Jumat (6/11/2026).

Founder Masyarakat Peduli Lingkungan dan Kota (Malika) for Urban Studies, Muhammad Ikbal, menyoroti dugaan operasional tempat penampungan sampah tanpa izin dan tidak dilengkapi instalasi pengolahan air lindi. Ia juga menyinggung dugaan pencemaran pestisida di Kali Jeletreng yang merupakan bagian dari DAS Cisadane.

Baca Juga  Aksi Parkir Liar di Ciputat Dikeluhkan, Diduga Paksa Bayar

Ikbal meminta pemerintah dan aparat terkait tidak membiarkan dugaan pelanggaran lingkungan tanpa penindakan. Ia juga mendorong audit Rencana Tata Ruang (RTR) agar pembangunan tidak mengabaikan daya dukung lingkungan.

“Sebetulnya jika benar-benar dilakukan, ini jadi patok kesadaran baru untuk mengoreksi ekologi yang rusak, yang bisa dimulai dari audit Rencana Tata Ruang,” kata Ikbal.

Baca Juga  APPSI Tangsel Lakukan Audensi ke Disperindag, Bahas Soal Pasar Ciputat Menjadi Pasar Ideal bagi Warga

Sementara itu, pengamat manajemen lingkungan, Asnil Bambani, mengingatkan ancaman pencemaran limbah rumah tangga dan industri.

Menurutnya, zat berbahaya seperti logam berat dapat masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia.

Ia juga menyoroti kebutuhan air industri pusat data atau data center yang berkembang di Tangerang. Pemerintah diminta memastikan ketersediaan sumber air agar investasi tidak mengorbankan kebutuhan masyarakat dan kelestarian Cisadane.

Baca Juga  ‎Moment Hari Buruh Nasional 2026,IWC Berbagi Keberkahan

Di sisi lain, penggiat sejarah Serpong, Syahrudin alias Mang Iging, mengingatkan bahwa Cisadane memiliki nilai sejarah sebagai pusat transportasi, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat sebelum kawasan perkotaan berkembang.

“Sungai Cisadane itu seharusnya menjadi tampak muka, bukan tampak belakang,” tegasnya.

Para narasumber sepakat bahwa penyelamatan Cisadane membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan pelaku industri.

Upaya pelestarian juga harus dilakukan secara berkelanjutan melalui penelitian, pemantauan kualitas air, restorasi lingkungan, serta penegakan hukum.

(Wivyh) 

Editor : Glend

Mengungkap Fakta
X
×
Deliksatu