Sampah Tangsel Disorot, Pengamat Sebut Pengolahan Terintegrasi Belum Optimal

NGERANG SELATAN – Pengamat kebijakan publik, Puji Imam Jakarsih, menyoroti lemahnya komitmen Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam merealisasikan program pengolahan sampah terintegrasi yang hingga kini dinilai belum berjalan optimal.

Menurutnya, persoalan sampah di Kota Tangerang Selatan kini bukan lagi sekadar masalah pelayanan publik, melainkan telah memasuki fase darurat lingkungan yang membutuhkan langkah konkret dan kepemimpinan yang tegas.
“Meskipun proyek pengolahan sampah telah mendapat dukungan pemerintah pusat dan masuk Proyek Strategis Nasional, implementasinya sampai hari ini belum terlihat nyata,” kata Puji dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Pendiri YLPKP Paragon itu juga menyinggung pembangunan kawasan ANWA Residence yang dinilai belum memiliki dukungan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) memadai bagi warganya.
Ia mempertanyakan bagaimana ekspansi pembangunan kawasan properti masih terus berjalan di tengah belum tersedianya sistem pengelolaan sampah yang jelas dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, Puji turut menyoroti mandeknya rencana proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik yang sebelumnya sempat digagas bersama Pemerintah Provinsi Banten.
“Terlepas dari pro dan kontra, kondisi ini menunjukkan rendahnya sensitivitas elite terhadap persoalan lingkungan yang selama bertahun-tahun membebani masyarakat. Sampah terus diproduksi, tetapi pengelolaannya tidak pernah benar-benar disiapkan secara profesional,” ujarnya.
Sorotan tajam juga diarahkan pada kondisi TPA Cipeucang yang disebut berulang kali mengalami lonjakan timbunan sampah dan kini berada di titik kritis.
Berdasarkan data 2025-2026, volume sampah di Tangerang Selatan mencapai sekitar 1.000 hingga 1.200 ton per hari. Namun tingkat penanganannya baru sekitar 71 persen.
Artinya, masih ada ratusan ton sampah per hari yang belum tertangani secara optimal dan berpotensi memunculkan persoalan lingkungan baru.
Puji menilai pola pengelolaan sampah di banyak daerah, termasuk Tangsel, masih bertumpu pada sistem penumpukan seperti open dumping maupun sanitary landfill yang dinilai hanya memindahkan persoalan tanpa menyelesaikan akar masalah.
Akibatnya, banyak tempat pembuangan akhir mengalami overload dan berisiko memicu bencana lingkungan, mulai dari longsor sampah, kebakaran, ledakan gas metana hingga pencemaran udara.
“Teknologi pengolahan sampah sebenarnya sudah tersedia dan diterapkan di banyak negara. Persoalannya bukan lagi soal konsep, tetapi keberanian mengambil keputusan dan keseriusan menjalankan kebijakan,” tegasnya.
Ia menilai lambannya realisasi pengolahan sampah terintegrasi mencerminkan lemahnya visi, manajemen, dan kepemimpinan para pemangku kebijakan dalam menjalankan proyek strategis lingkungan di kawasan perkotaan.
Dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang terus meningkat di Tangerang Selatan, Puji mengingatkan persoalan sampah dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan kelayakan hidup perkotaan apabila tidak segera ditangani secara menyeluruh.

Baca Juga  Sambangi Kantor Sekretariat FWJI Korwil Tangsel, Opan Berikan Wejangan untuk Organisasi lebih Maju

Editor : Glend